Selasa, 05 Juni 2012

KEHIDUPAN MASYARAKAT BERBURU DAN MENGUMPULKAN MAKANAN


KEHIDUPAN MASYARAKAT BERBURU DAN MENGUMPULKAN MAKANAN
1.                  Lingkungan Alam Kehidupan
Kehidupan masyarakat berburu dan mengumpulkan makanan ini sangat sederhana. Kehidupan mereka tak ubahnya seperti kelompok hewan, karena tergantung pada apa yang di sediakan oleh alam.
Pada masa berburu dan mengumpulkan makanan, manusia tinggal di alam terbuka seperti hutan, di tepi sungai, di gunung, di goa dan lembah-lembah. Di samping itu, lingkungan alam kehidupan manusia pada masa berburu dan mengumpulkan makanan belum stabil dan masih liar.
Dengan keadaan alam yang sangat berbahaya itu, manusia dalam melaksanakan perjalanannya cenderung melalui atau menyusuri tepi-tepi sungai. Dalam perjalanan menyusuri sungai inilah timbul pikiran mereka untuk membuat rakit-rakit. Bahkan pada masa selanjutnya mereka dapat menciptakan perahu sebagai sarana perjalanan untuk melalui sungai.
2.                  Kehidupan Sosial
Masyarakat pada masa berburu dan mengumpulkan makanan telah mengenal kehidupan kelompok. Jumlah anggota dalam tiap kelompok sekitar 10 -15 orang. Mereka hidup selalu berpindah-pindah dari satu tempat ketempat yang lain. Perpindahan yang mereka lakukan itu semata-mata hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Mereka hanya mengandalkan apa yang mereka temukan dalam hutan. Dan setelah persediaan dalam hutan habis, mereka terus mencari tempat berburu lagi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kehidupan seperti itu terjadi secara berulang-ulang dari satu tempat ketempat lain.
Hubungan antara anggota kelompok sangat erat. Mereka bekerja secara bersama-sama untuk memenuhi kebutuhan hidup serta mempertahankan kelompok dari serangan kelompoklain atau serangan binatang buas. Meskipun  dalam kehidupan yang masih sederhana, mereka telah mengenal adanya pembagian tugas kerja. Kaum laki-laki biasanya bertugas untuk berburu dan kaum perempuan bertugas untuk memeihara anak serta mengumpulkan buah-buahan dari hutan. Masing-masing kelompok memiliki pemimpin yang sangat ditaati dan sangat dihormati oleh anggota kelompoknya.

3.                  Kehidupan Budaya
Benda – benda hasil kebudayaan zaman tersebut adalah sebagai berikut :
1.                  Kapak perimbas.
Kapak perimbas tidak memiliki tangkai dan digunakan dengan cara menggenggam. Penelitian terhadap kapak ini dilakukan di daerah Punung (Kabupaten Pacitan) oleh Von Koenigswald (1935). Kapak perimbas tidak hanya ditemukan di Pacitan melainkan juga pada tempat – tempat seperti Sukabumi, Ciamis, Gombong, Bengkulu, Lahat (Sumatera), Bali, Flores dan Timor. Para ahli sejarah mengambil suatu kesimpulan bahwa alat – alat tersebut berasal dari lapisan yang sama dengan Phithecanthropus erectus dan diperkirankan juga bahwa Phithecanthropus erectus inilah pembuatnya. Tempat penemuan kapak perimbas diluar wilayah Indonesia seperti Pakistan, Myanmar (Birma), Malaysia, Cina, Thailand, Filipina dan Vietnam.
2.                  Kapak penetak.
Kapak penetak memiliki bentuk yang hampir sama dengan kapak perimbas. Kapak penetak ini bentuknya lebih besar dari kapa perimbas dan cara pembuatannya masih kasar. Kapak ini berfungsi untuk membelah kayu, pohon, bambu atau disesuaikan dengan kebutuhannya. Kapak penetak ini ditemukan hampir diseluruh wilayah Indonesia.
3.                  Kapak genggam.
Kapak genggam memiliki bentuk hampir sama dengan kapak perimbas dan kapak penetak. Tetapi bentuknya jauh lebih kecil. Kapak genggam dibuat masih sangat sederhana dan belum diasah. Kapak ini juga ditemukan hampir diseluruh wilayah Indonesia. Cara pemakaiannya digenggam pada ujungnya yang lebih kecil.
4.                  Pahat genggam.
Pahat genggam memilki bentuk yang lebih kecil dari kapak genggam. Para ahli menafsirkan bahwa pahat genggam mempunyai fungsi untuk menggemburkan tanah. Alat ini digunakan untuk mencari umbi – umbian yang dapat dimakan.
5.                  Alat serpih.
Alat serpih memiliki bentuk sangat sederhana dan berdasrkan bentuknya alat – alat itu digunakan sebagai pisau, gurdi dan alat penusuk. Dengan alat ini manusia purba mengupas, memotong dan juga menggali makanan. Alat serpih ini juga ditemukan oleh Von Koenigswald pada tahun 1934 di daerah Sangiran (Kabupaten Surakarta). Tempat – tempat penemuan lainnya di Indonesia antara lain  Cabbenge (sulawesi Selatan), maumere (Flores) dan Timor. Alat – alat serpih sangat kecil dan berukuran antara 10 – 20 cm serta banyak ditemukan pada goa – goa tempat tinggal mereka pada waktu itu. Pada umumnya goa – goa tidak terganggu keadaannya, maka apa yang ditinggalkan oleh manusia purba masih dapat ditemukan dalam keadaan seperti ditinggalkan oleh penghuninya, sehingga goa – goa menjadi salah satu sasaran para ahli untuk penelitian.
6.                  Alat – alat dari tulang.
Alat – alat dari tulang dibuat dari tulang tulang binatang buruan. Alat – alat yang dibuat dari tulang antara lain, pisau, belati, mata tombak, mata panah dan lain – lainnya. Peralatan dri tulang banyak ditemukan di Ngandong.
4.                  Kehidupan Ekonomi Masyarakat
Pada masa kehidupan berburu dan mengumpulkan makanan, manusia bekerja bersama – sama dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam satu kelompok biasanya beranggotakan 10 – 15 orang. Dengan anggota kelompok yang masih sedikit itu, mereka dapat dengan mudah memenuhi sebagian besar kebutuhan hidupnya dari apa yang telah tersedia di dalam hutan. Bahkan ketika persediaan yang ada dalam hutan habis, maka mereka pindah untuk menemukan daerah yang menyediakan kebutuhan – kebutuhan hidupnya.
5.                  Kehidupan Kepercayaan Masyarakat
Penemuan kuburan dari masa berburu dan mengumpulkan makanan menunjukkan bahwa masyarakat pada masa itu sudah memiliki anggapan tertentu dan memberikan penghormatan terakhir kepada orang yang meninggal. Dengan adanya pelaksanaan penguburan terhadap orang yang meninggal, telah menjadi salah satu indikasi awal munculnya kepercayaan manusia purba pada masa berburu dan mengumpulkan makanan. Dengan penguburan terhadap orang yang meninggal maka konsep kepercayaan tentang adanya hubungan antara orang yang sudah meninggal nan yang masih hidup sudah diyakin.

B. Kehidupan Masyarakat Beternak Dan Bercocok Tanam
1. Lingkungan alam kehidupan
            Dalam kehidupan menetap itu manusia mulai hidup dari hasil bercocok tanam dengan menanam jenis-jenis tanaman yang semula tumbuh liar untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.
Mereka mulai menjinakkan hewan-hewan yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya seperti kuda, anjing, kerbau, sapi, dan babi. Kehidupan bercocok tanam yang pertama kali dikenal oleh manusia adalah berhuma. Berhuma adalah teknik bercocok tanam dengan cara membersihkan hutan dan menanaminya, setelah tanah tidak subur mereka pindah dan mencari bagian hutan yang lain.
2. Kehidupan social
            Masyarakatnya sudah memiliki tempat tinggal yang tetap. Mereka memilih tempat tinggal pada suatu tempat tertentu. Hal itu dimaksudkan agar hubungan antara manusia didalam kelompok masyarakatnya semakin erat.
            Manusia selalu tergantung dengan manusia lainnya, sehingga masing-masing manusia saling melengkapi, saling membantu, dan saling berinteraksi dalam upaya memenuhi kebutuhan hidupnya. Masyarakat pada masa itu hidup secara bergotong royong. Dalam perkumpulan masyarakat yang masih sederhanabiasanya terdapat pemimpin yang disebut kepala suku, sosok kepala suku merupakan orang yang sangat dipercaya dan ditaati untuk memimpin sebuah kelompok masyarakat.
3.Kehidupan Ekonomi
            Dalam rangka memenuhi kebutuhannya masing-masing diadakan pertukaran barang dengan barang (system barter).  Misalnya, masyarakat yang berada didaerah pegunungan menjalin hubungan dengan masyarakat yang berada didaerah pantai.
            Untuk memperlancar kegiatan perdagangan, dibutuhkan suatu tempat khusus yang dapat dijadikan sebagai tempat pertemuan antara pedagang  dan pembeli. Tempat itu dikenal dengan sebutan pasar.
4. Sistem kepercayaan masyarakat
            Pada masa kehidupan bercocok tanam kepercayaan masyarakat semakin bertambah, bahkan masyarakat juga telah mempunyai konsep tentang apa yang terjadi dengan seseorang yang telah meninggal. Mereka percaya bahwa orang-orang yang meninggal rohnya pergi kesuatu tempat yang tidak jauh dari tempat tinggalnya atau roh orang yang meninggal itu tetap berada disekitar wilayah tempat tinggalnya, sehingga sewaktu-waktu dapat dipanggil untuk dimintai bantuannya dalam khasus tertentu seperti menanggulangi wabah penyakit atau mengusir pasukan-pasukan musuh yang ingin mnyerang wilayah tempat tinggalnya.

5. Kehidupan budaya
Pada zaman ini manusia mulai dapat mengembangkan dirinya untuk menciptakan kebudayaan yang lebih baik. Berikut berbagai peninggalan kebudayaan manusia pada masa itu:
a.                  Beliung Persegi
Merupakan benda upacara. Di wilayah Indonesia benda ini ditemukan di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Nusa Tenggara. Dan di wilayah luar Indonesia ditemukan di Semenanjung Melayu dan Asia Tenggara.

b.                  Kapak Lonjong
Terbut dari batu kali yang berwarna kehitam-hitaman, cara pembuatannya adalah dengan diupam sampai halus. Benda ini digunakan untuk memotong makanan. Kapak Lonjong ditemukan di daerah Maluku, Papuadan sebagian daerah Sulawesi utara. Dan untuk di luar wilayah Indonesia yaitu kepulauan Filipina, Taiwan, dan China.
                                    
c.                  Mata Panah
Dibagi atas dua macam, yaitu mata panah untuk menangkap ikan dan mata panah untuk berburu. Mata panah untuk menangkap ikan berbeda dengan mata panah untuk berburu. Mata panah untuk ikan dibuat bergerigi seperti mata gergaji dan umumnya terbuat dari tulang. Dan mata panah ada juda yang terbuat dari kayu.
d.                  Gerabah
Teruat dari tanah liat yang dibakar. Berfungsi untuk tempat penyimpanan benda-benda perhiasan.

6. Perhiasan
Berbagai perhiasan dibuat pada masa itu terbuat dari tanah liat, batu kalsedon, yaspur dan agat. Perhiasannya berupa kalung, gelang, dan lain lain.


Megalitikum (batu besar)
Megalithikum merupakan kebudayaan yang menghasilkan bangunan dari batu besar (mega=besar,lithos = batu).
Kebudayaan ini muncul pada masa Neolithikum, yang membedakan keduanya adalah adanya alat peninggalan berbentuk batu besar dan berhubungan dengan sistem kepercayaan yang mereka anut,seperti Animisme,Dinamisme dan Totemisme .
Pembuatan kebudayaan-kebudayaan megalitikum ini erat kaitannya dengan kegiatan religious, yaitu kepercayaan terhadap roh nenek moyang.
Persebaran kebudayaan ini terdapat di Nias,Flores,Sumba dan Toraja

§     Hasil-hasil  kebudayaan Megalithikum adalah :
    1.MENHIR
       Menhir adalah tiang atau tugu batu tunggal yang didirikan untuk menghormati roh nenek moyang. Menhir banyak ditemukan di Kalimantan,Sulawesi Tengah dan Jawa Tengah( Gunung Kidul,Playen,Sukoliman,dan Rembang). Menhir ada 2 jenis : ada yang memiliki illustrasi ditugu        batu dan ada yang tidak memiliki illustrasi ditugu batu.

 2.DOLMEN
       Adalah meja yang berkakikan menhir,dolmen digunakan sebagai tempat sesaji untuk pemujaan pada roh nenek moyang .Dolmen ada juga yang berbentuk peti mati dan        didalamnya berisi tulang belulang manusia serta beberapa benda yang disertai, seperti periuk, gigi binatang dan porselen. Dolmen banyak sekali ditemukan  di Nusatenggara,Lampung dan Sumatera.
 3.SARKOFAGUS
       Adalah lesung yang mempunyai tutup dan berfungsi sebagai peti mati atau keranda.Bentuknya bermacam-macam : ada yang seperti binatang (Pejeng) atau ada  yang bulat  utuh.Peti mayat ini ditemukan di situs Pejen Bali dan beberapa daerah di Jawa Barat (kuningan)

 4.PUNDEN BERUNDAK-UNDAK
       Merupakan bangunan batu yang disusun secara bertingkat. Biasanya pada punden berundak terdapat menhir. Fungsi Punden berundak adalah sebagai sebagai tempat       pemujaan,sekilas bangunan ini berupa anak tangga yang tersusun rapi hingga keatas .       Bangunan ini dapat ditemukan di Lebak Sibedug,Banten Selatan,Kuningan,Pasirangin.
  5.WARUGA/PETI KUBUR
       Adalah kubur batu yang terbuat dari batu utuh, namun berbentuk bulat, ada pula yang kubus. Waruga dapat ditemukan di daerah Sulawesi Utara dan Tengah minahasa.

6.ARCA BATU
       Arca-arca ini biasanya menggambarkan binatang dan manusia. Binatang yang terdapat di arca antara lain : Gajah,Kerbau,Harimau dan Monyet. Arca-arca tersebut dapat ditemukan di daerah Jawa tengah,Jawa Timur,Lampung dan Sumatera Selatan. Arca ini terus berkembang hingga kebudayaan Logam, yang tadinya dibuat dari batu diganti dengan logam.

C. PERKEMBANGAN TEKNOLOGI MASYARAKAT AWAL INDONESIA
1.                  Keadaan Alam Lingkungan Kehidupan Manusia
Dalam kehidupan menetap manusia sudah dapat menghasilkan sendiri kebutuhan-kebutuhan hidupnya, walaupun tidak seluruhnya. Namun demikian, dalam kehidupan menetap pola pikir manusia terus berkembang dan semakin maju. Pada masa ini, manusia telah mengenal teknologi, meski teknologi itu masih terbatas pada upaya untuk memenuhi peralatan-peralatan sederhana yang dibutuhkan dalam aktivitas kehidupannya. Pengenalan teknologi dalam kehidupan manusia pada masa itu terlihat jelas pada teknik pembuatan tempat tinggal atau peralatan-peralatan yang mereka gunakan untuk membantu upaya memenuhi kebutuhan hidupnya.
            Dalam perkembangan teknologi awal ini, masyarakat indonesia juga mulai mengenal benda-benda atau peralatan-peralatan yang berasal dari logam, berupa logam perunggu. Hal ini dibuktikan dengan penemuan benda-benda yang berasal dari perunggu di beberapa wilayah Indonesia.
2.                  Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat
Kehidupan pada masa manusia telah mengenal logam dikenal sebagai masa perundagian. Masa perundagian sangat penting artinya dalam perkembangan sejarah indonesia, karena pada masa ini terjalin hubungan dengan daerah-daerah di sekitar kepulauan indonesia.
Masa perundagian juga menjadi dasar bertumbuh-kembangnya kerajaan-kerajaan di Indonesia seperti kerajaan Kutai, Tarumanegara, Sriwijaya, Mataram dan kerajaan-kerajaan lainnya. Masyarakat pada masa itu sudah hidup teratur dan makmur, kemakmuran masyarakat diketahu melalui perkembanga teknik pertanian.
Daerah-daerah yang sudah mengenal persawahan tentu masyarakatnya lebih mampu menyediakan bahan pangan dalam jumlah yang cukup dan teratur. Berbeda dengan masyarakatan  didaerah huma dan perladangan yang tergantung pada cuaca dan kesuburan tanah. Aktivitas ekonomi dan perdagangan terjalin tidak hanya terbatas pada masyarakat suatu daerah yang sama, tetapi telah meluas sampai kepada masyarakatdari daerah yang lebih jauh. Kegiatan perdagangan dan perekonomian ini kemudian menjadi dasar perkembangan perdagangan bangsa Indonesia pada masa selanjutnya.
3.                                                                                                                                 Kehidupan Budaya Masyarakat
              Peninggalan-peninggalan budaya masyarakat Indonesia yang berasal dari benda-benda logam merupakan kekayaan dan keanekaragaman budaya yang telah tumbuh dan berkembang pada masa itu. Benda-benda peninggalan bangsa Indonesia yang terbuat dari logam di antaranya :
v                             Nekara perunggu
Nekara merupakan sebuah benda kebudayaan yang terbuat dari perunggu. Bentuknya seperti sebuah dandang yang tertelungkup. Nekara berfungsi sebagai perlengkapan upacara untuk memohon turunnya hujan.
v                             Kapak perunggu
Bentuk kapak perunggu beraneka ragam, ada yang berbentuk pahat, jantung atau tembilang. Pola hiasnya berupa topang mata dan pola geometri. Di Indonesia hanya di temukan tiga buah.
v                             Bejana perunggu
Bentuknya mirip gitar Spanyol, tetapi tanpa tangkai. Pola hiasan adalah hiasan anyaman dan menyerupai huruf “J”. Di Indonesia ditemukan dua buah oleh para ahli yaitu di daerah Madura dan Sumatra.
v                             Arca perunggu
Bentuk arca beraneka ragam, seperti menggambarkan orang menari, naik kuda dan memegang busur panah. Daerah-daerah tempat penemuan arca seperti di daerah Bangkinang(Riau), Lumajang, Bogor dan Palembang.
v                             Perhiasan
Perhiasan yang terbuat dari perunggu, emas, dan besi, banyak ditemukan di wilayah Indonesia. Biasanya perhiasan ditemukan sebagai bekal kubur. Benda-benda ini banyak ditemukan di daerah Bogor, Bali, dan Malang.

                               Sistem Kepercayaan Awal Masyarakat Indonesia

1.                  Kepercayaan terhadap Roh Nenek Moyang
Kepercayaan ini berawal dari kehidupan masyarakat berburu dan mengumpulkan makanan.  Dan berdasarkan hasil peninggalan budaya masyarakat bercocok tanamberupa bangunan-bangunan megalitikum dengan fungsinya sebagai tempat-tempat pemujaan atau penghormatan kepada roh nenek moyang, maka diketahui bahwa masyarakat pada masa iru sudah menghormati orang yang sudah meninggal.
2.                  Kepercayaan bersifat animise
Kepercayaan bersifat animise merupakan kepercayaan terhadap suatu benda yang dianggap memiliki roh atau jiwa.
3.                  Kepercayaan bersifat Dinamisme
Kepercayaan bersifat Dinamisme merupakan kepercayaan bahwa setiap benda memiliki kekuatan gaib.
4.                  Kepercayaan bersifat Monisme
Kepercayaan bersifat Monisme adalah kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar